Pendahuluan
Sejarah lingkungan hidup baru lahir tahun 1970an. Ternyata bukan manusia saja yang memproduksi sejarah – alam juga. Edisi Bacaan Bumi ini mengeksplorasi temuan-temuan barunya, dan relevansinya untuk Indonesia.
Ronal Ridhoi menceritakan sejarah dua komoditas di wilayah bergunung di Jawa Timur: air minum, dan kopi. Dulu hal ini dianggap anugerah Tuhan yang dikaruniakan untuk seluruh umat manusia. Itu semuanya berubah setelah Belanda mendarat di sini. Air dan kopi menjadi komoditas yang diperdagangkan demi laba. Alam terkuras, buruh diperas, sedangkan orang kaya bertambah kaya.
Suryo Adi Pramono menulis tentang sejarah komodifikasi beras sejak awal Orde Baru. Benih dan pupuk anorganiknya harus dibeli dari perusahaan raksasa. Cara-cara asli yang organik dilarang. Pak Suryo bertemu dengan sejumlah petani yang tetap ngotot mempertahankannya.
Gerry van Klinken menganjurkan agar sejarah lingkungan hidup jangan hanya memandang hubungan kultural manusia dengan alam. Aliran material (seperti sumber daya alam, dan limbah) lebih menentukan. Ternyata laju aliran tersebut jauh melampaui batas keberlanjutan. Lagipula, dari sudut Sistem Dunia, ada ketidakseimbangan. Hasil bumi seperti sawit dan mineral dibawa ke Utara dari Selatan (termasuk Indonesia); limbah dan kerusakan alam tetap di Selatan. Adilkah?
Simaklah Bacaan Bumi edisi ini! Kirimlah tanggapan ke editor@insideindonesia.org.
Gerry van Klinken (Editor, Bacaan Bumi)