Inside Indonesia magazine
HOME PAST EDITIONS WRITE FOR US VOLUNTEER ABOUT US CONTACT US
 
 





Tiga belas tahun mencari keadilan Print E-mail

 

Muhajir Lubis

Nama saya Muhajir Lubis. Saya berasal dari Sumatera Utara, Indonesia. Usia saya sekarang 48 tahun. Saya dan keluarga tinggal di Tangerang, sekitar 30 km dari ibukota Jakarta. Tangerang adalah salah satu kota industri terbesar di Indonesia. Banyak pabrik berdiri di sana. Karena itulah setelah lulus dari Fakultas Teknik Universitas ISTN, saya mencari kerja di Tangerang.

Pada tahun 1990, saya mulai bekerja sebagai buruh di PT Chiquita Talonplaas Zipper (PT CTZ), sebuah pabrik retsleting. Pada perusahaan ini saya bekerja sebagai Asisten Manager Metal Zipper, dengan mendapat upah Rp 1.200.000/bulan. Mulanya saya bekerja dengan tenang. Namun, pada tahun 1993, terjadi krisis keuangan di perusahaan. Hal itu menyebabkan perusahaan mulai tidak membayar sebagian upah saya. Saya protes kepada perusahaan. Tetapi perusahaan malah melakukan PHK terhadap saya secara sewenang-wenang.

Tentu saja saya menolak diperlakukan secara tidak adil. Saya memperjuangkan perkara saya di lembaga Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P). Pada bulan Mei 1994, P4P memutuskan PT CTZ tidak boleh mem-PHK saya dan harus menempatkan saya pada posisi dan jabatan saya semula. Tetapi PT CTZ tidak mau menyerah. Pihak perusahaan lalu menyatakan penolakannya kepada Menteri Tenaga Kerja RI, bahkan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara di Jakarta. Pada tahun 1996, Pengadilan Negeri Tangerang menjatuhkan hukuman pidana penjara satu bulan pada Pimpinan PT CTZ karena membangkang mengikuti putusan Mahkamah Agung RI.

Pada tahun 2001 pimpinan perusahaan PT CTZ mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung RI setelah Pengadilan Tinggi Jawa Barat menolak permohonan bandingnya. Betapa terkejutnya saya, ketika pada tahun 1999, Mahkamah Agung RI memutuskan bahwa pimpinan PT CTZ dibebaskan dari segala dakwaan pidana. Ini artinya perjuangan saya selama bertahun-tahun menjadi tidak berarti sama sekali.

Saya tidak mau berputus asa dan menyerah begitu saja. Saya mengajukan surat mempertanyakan hal ini pada ketua Mahkamah Agung RI. Namun tidak ada jawaban yang berarti. Saya juga masih berjuang untuk mengajukan eksekusi terhadap aset PT CTZ untuk digunakan membayarkan kerugian yang saya derita akibat tidak dijalankannya putusan pengadilan untuk mempekerjakan saya kembali. Namun sampai hari ini, setelah lebih dari enam tahun Mahkamah Agung RI belum mengeluarkan putusan terhadap permohonan eksekusi atas aset PT CTZ.

Sampai hari ini, sudah lebih dari 13 tahun saya memperjuangkan hak saya sebagai seorang buruh. Namun rasanya hukum tidak berpihak pada kaum miskin seperti saya ini. Perjalanan perjuangan saya untuk memperoleh keadilan di meja hijau menjadi buktinya. Saya merasa bahwa Mahkamah Agung RI sebagai institusi hukum tertinggi di Indonesia sepertinya tidak bisa diharapkan menjadi benteng bagi pencari keadilan.

Saya juga sangat merasakan begitu hebatnya rintangan yang saya temui dalam menegakkan hukum ini, baik di Disnaker, Kepolisian, PN Tangerang, Pengadilan Tinggi Jawa Barat, maupun MA. Rintangan berupa birokrasi, suap pengusaha dan ketidakseriusan pejabat negara menyelesaikan kasus pidana ini.

Saya terus memperjuangkan keadilan berpihak pada saya walaupun saya bingung memikirkan dari mana saya dapat memperoleh biaya penanganan perkara. Hingga hari ini, saya belum mendapatkan pekerjaan tetap. Penghasilan utama keluarga kami hanyalah dengan mengandalkan warung kecil-kecilan di mana kami menjual barang-barang kelontong di depan rumah. Untungnya, istri saya, Ngadiah adalah perempuan tabah yang tetap mau mendukung perjuangan saya. Di sisi lain, saya harus memikirkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah ketiga anak-anak saya masih kecil-kecil.

Akhir kata, saya yakin tulisan kecil ini mewakili perasaan ribuan orang pencari keadilan di Indonesia. Ternyata keadilan masih merupakan barang langka untuk kaum miskin seperti kami. Institusi peradilan sukar untuk dijadikan tempat bernaung bagi para pencari keadilan seperti saya karena masih sarat dengan korupsi-kolusi-nepotisme dan tidak menjunjung tinggi nilai moral. Tetapi saya yakin, Tuhan yang Maha Esa selalu akan memberi kemenangan bagi orang-orang yang mau terus berjuang demi hak-haknya dan keadilan. Karena itu saya akan terus berjuang, walau butuh waktu panjang.


Inside Indonesia 87: Jul-Sep 2006


 
 
Top!

Copyright 1996-2009 © Inside Indonesia

Top!